BRIN Dorong UMKM Sulsel Kembangkan Produk Olahan Kacang Tanah dan Markisa
TEMANTA - Kacang tanah dan buah markisa menjadi potensi unggulan Sulawesi Selatan yang berpeluang besar dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah p...
TEMANTA - Kacang tanah dan buah markisa menjadi potensi unggulan Sulawesi Selatan yang berpeluang besar dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah produk UMKM. Hal ini disampaikan Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang diwakili Faizinal Abidin, dalam kegiatan Pelatihan Diversifikasi Produk Olahan Buah Markisa dan Kacang Tanah di Bank Syariah Indonesia (BSI) UMKM Center Makassar, pada Selasa (15/7).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi pada Masyarakat (PKPRIM) hasil kerja sama BRIN dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Pelatihan diikuti UMKM binaan BSI di Sulawesi Selatan dengan tujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya di sektor makanan dan minuman (food and beverage).
“Melalui pelatihan ini, pelaku UMKM diharapkan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan teknis dalam mengolah kacang tanah dan buah markisa sehingga mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi,” kata Faizinal.
Periset dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Raden Cecep Erwan Andriansyah menjelaskan, tahapan pengolahan kacang tanah. Prosesnya meliputi penyortiran, pembersihan, pencucian, penirisan, penyangraian, pencampuran, pemasakan, pendinginan, pengemasan, dan sterilisasi.
“Khusus untuk kacang disko, proses penyangraian harus cepat dan kacang tetap memiliki kulit ari agar tidak terlepas saat diolah,” terangnya. Untuk pembuatan selai kacang, Cecep menyarankan penggunaan 100 gram kacang tanah yang disangrai singkat, kemudian diblender bersama 15 gram gula halus dan 30 ml minyak sayur. Hasilnya harus memiliki tekstur yang tidak terlalu padat maupun encer. Selai kemudian dikemas dalam botol dan dikukus untuk sterilisasi agar kualitasnya terjaga.
Menurutnya, selai kacang dapat diawetkan dengan natrium benzoat sebanyak 500 mg per kilogram bahan. “Tanpa pengawet, selai kacang tetap bisa disimpan di lemari pendingin, namun tidak dapat bertahan lama pada suhu ruang karena rentan berjamur,” jelasnya
BRIN berharap pelatihan ini mampu membantu UMKM memanfaatkan potensi lokal Sulawesi Selatan, khususnya kacang tanah dan markisa, untuk menghasilkan produk inovatif dan meningkatkan perekonomian daerah.